Tata Cara Jual Beli Tanah yang Belum Bersertifikat yang Tepat

21.59 Mugiwara Upi 0 Comments




 
foto hanya ilustrasi
Jual beli tanah adalah salah satu bisnis yang menguntungkan. Bagaimana tidak, setiap tahunnya tanah selalu mengalami kenaikan. Bahkan, dalam waktu lima tahun saja, nilai jual tanah bisa mencapai dua kali lipatnya. Memang sangat menggiurkan. Itulah yang menjadi alasan kenapa bisnis yang satu ini tak pernah sepi peminat.

Namun, bagaimana jika tanah yang hendak Anda jual belum memiliki sertifikat? Jelas ini adalah masalah yang sulit. Sebab, bila tidak memiliki sertifikat berarti tanah tersebut tidak memiliki legalitas yang jelas. Tenang, Anda tetap bisa melakukan bisnis jual beli ini. Asal melakukan tata cara yang benar, maka tak akan menimbulkan masalah. Bagaimana caranya?

1. Buat Surat Keterangan Tidak Ada Sengketa
Langkah pertama yang perlu Anda lakukan dalam menjual tanah yang tidak memiliki sertifikat adalah membuat surat keterangan tidak ada sengketa. Kita sudah sama-sama tahu bahwa salah satu hal yang ditakutkan dari membeli tanah tanpa sertifikat ini adalah kemungkinan terjadinya sengketa di kemudian hari.

Tidak tanggung-tanggung, sudah banyak kejadian ketika tanah yang dimiliki kemudian jatuh ke tangan orang lain hanya karena ketiadaan sertifikat. Hal inilah yang sangat dihindari oleh pembeli tanah. Jadi, surat keterangan ini jelas sangat penting. Anda bisa membuat surat ini di Kantor Kelurahan tempat tanah Anda berada. Saat membuatnya, biasanya pihak kelurahan akan melakukan survei terlebih dulu.

Tujuan mereka tentu saja untuk memastikan memang tidak ada sengketa atas tanah tersebut. Kunci dari kekuatan surat ini adalah adanya saksi yang bisa dipercaya. Saat membuat surat ini, biasanya ada saksi seperti ketua RT atau RW. Dengan begitu, keabsahan dari surat ini bisa dipertanggungjawabkan.

2. Buat Surat Keterangan Riwayat Tanah
Langkah berikutnya, Anda harus membuat surat keterangan riwayat tanah. Surat ini biasanya dibuat oleh petugas dari Kantor Kelurahan. Dalam surat ini, dijelaskan secara urur dan tertulis siapa saja pemilik tanah tersebut dari awal hingga sebelum dijual. Di dalamnya, disebutkan juga mengenai fungsi dan penggunaannya sebelumnya.

3. Buat Surat Keterangan Penguasaan Tanah Sporadik
Dalam jual beli tanah yang belum bersertifikat, langkah selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah membuat surat keterangan penguasaan tanah Sporadik. Surat ini juga dibuat dengan bantuan petugas Kelurahan. Fungsi dari surat ini adalah menguatkan kepemilikan pemohon sebagai pemilik sah tanah yang akan dijual.

4. Pengajuan Berkas Permohonan
Selanjutnya, Anda harus melakukan pengajuan berkas permohonan penerbitan sertifikat tanah. Berkas permohonan ini harus diserahkan pada Kantor Pertanahan. Sebelumnya, Anda harus melengkapi berbagai syaratnya dulu seperti surat asli tanah girik, surat keterangan riwayat tanah, surat keterangan tidak sengketa dan masih banyak lagi.

5. Melakukan Pengukuran Lokasi Dibantu Petugas
Setelah berkas pengajuan permohonan penerbitan sertifikat tanah diterima, langkah selanjutnya adalah pengkuran lokasi. Anda akan dibantu petugas dari Kantor Pertanahan untuk melakukan ini. Dalam pengukuran ini, dilakukan juga pembuatan blueprint dari tanah yang Anda miliki.

6. Penerbitan Surat Ukur
Setelah proses pengukuran selesai, langkah berikutnya yang harus dilakukan saat ingin menjual tanah yang belum memiliki sertifikat adalah penerbitan surat ukur. Dalam membuat laporan ini, harus diketahui oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat.

7. Penerbitan SK Kepala Kantor BPN
Hal berikutnya yang harus dilakukan dalam jual beli tanah yang belum bersertifikat adalah menunggu penerbitan SK dari Kepala Kantor BPN. Biasanya, hal ini dilakukan setelah semua proses di atas selesai. Lama waktu tunggu yang dibutuhkan adalah sekitar 60 hari setelah pengajuan. Kepala Kantor BPN akan menerbitkan Surat Keterangan Hak atas Tanah Anda.

8. Pembayaran BPHTB
Setelah Surat Keterangan Hak atas Tanah Anda terbit, yang harus Anda lakukan selanjutnya adalah melakukan pembayaran atas BPHTB ataau Bea Perolehan Hak atas Tanah. Ini wajib Anda bayarkan sesuai dengan peraturan yang telah ada. Biasanya, jumlah dana yang harus Anda bayarkan untuk BPHTB ini berbeda-beda.

Jumlahnya tergantung pada luas tanah yang tercatat pada surat ukur yang diterbitkan pihak Kantor Pertanahan setempat. Setelah ini, selangkah lagi Anda sudah bisa memiliki sertifikat atas tanah Anda dan tanah tersebut bisa dijual dengan aman.

9. Pendaftaran SK Hak untuk Sertifikat
Langkah terakhir yang harus Anda lakukan adalah pendaftaran SK Hak untuk sertifikat. Anda bisa mendaftarkannya dengan bukti pembayaran BPHTB untuk menjadi Sertifikat Hak Milik. Anda harus sabar. Proses pendaftaran SK Hak tanah ini cukup memakan waktu. Biasanya, butuh waktu 6 hingga 12 bulan agar Sertifikat Hak Milik itu terbit.

Demikianlah tata cara jual beli tanah yang belum bersertifikat yang harus Anda lakukan. Jika Anda tak melakukan ini, akan susah menjual tanah yang Anda miliki. Sebab, kebanyakan calon pembeli tidak mau membeli tanah yang tidak memiliki sertifikat. Mereka beralasan takut menemui masalah di kemudian hari.

Tips dan Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

05.41 Mugiwara Upi 0 Comments

foto:haibunda.com

Orang tua baru terkadang merasa cemas saat memandikan bayi baru mereka yang baru lahir. Bagaimana tidak, bayi itu begitu kecil dan rentan terhadap penyakit. Selain itu, kulitnya juga sangat halus dan akan merasakan sakit bila terlalu kuat memegangnya. Bagi anda para orang tua mudah perlu belajar cara memandikan bayi baru lahir yang tepat. Nah, berikut ini ulasan tentang tips dan cara memandikan bayi!
Tempat pemandian bayi
Sebelum menerapkan cara memandikan bayi baru lahir, tentukan tempat pemandiannya yang tepat. Apakah Anda memandikan bayi di bak cuci piring yang dilapisi permukaan lembut atau bak plastik dengan selempang diletakkan di bak mandi sebenarnya. Penyiapan Anda harus stabil dan tidak boleh ada yang sulit atau tajam agar tidak melukai bayi anda.
Kamar yang hangat
Jaga agar suhu tetap terangkat sehingga tidak mengejutkan tubuh bayi saat ia keluar dari bak mandi. Bayi memiliki waktu yang sulit mengatur suhu inti tubuh mereka, jadi seharusnya tidak kedinginan terlalu lama.
Air
Isi bak mandi sekitar tiga inci dengan air sedikit lebih hangat suam-suam kuku. Tenggelamkan seluruh tangan dan pergelangan tangan Anda untuk memeriksa suhu. Air tidak boleh mengalir saat bayi ada di bak mandi, karena kedalamannya bisa cepat menjadi berbahaya, atau suhu air bisa berubah dan menjadi terlalu panas.
Teko plastik atau cangkir
Gunakan teko plastik atau cangkir untuk menuangkan air ke bayi dan bilas dia pergi. Peralatan itu lebih aman bagi bayi anda daripada air yang mengalir dari keran. Atau peras kain lap yang dibasahi air di atas kepala bayi untuk dibilas. Dan itu cara memandikan bayi baru lahir yang dianjurkan para ahli.
Sabun mandi
Keringat dan kulit mati yang menumpuk pada bayi bisa menghasilkan bau, anda bisa menggunakan sabun untuk mengusir semua itu dari tubuh bayi anda. Gunakan secukupnya jangan terlalu banyak karena dapat mengeringkan kulit bayi. Carilah sabun ringan dan tidak pedas untuk mata  si kecil. Gunakan sabun juga untuk untuk tubuh dan rambut bayi.
Mulailah dengan merendam bayi secara perlahan. Selalu simpan satu tangan pada bayi, dan ingat bahwa bayi sangat licin saat basah. Cuci muka terlebih dahulu, bersihkan satu area pada satu waktu sangat menakutkan bagi bayi agar seluruh wajah mereka tertutup kain lap. Saat Anda menurunkan tubuhnya, segera bersihkan seluruh tubuh ke dalam semua lipatan (termasuk di bawah lengan, di leher dan area genital).
Keringat dan kulit bisa menumpuk di daerah itu dan membusuk, menyebabkan ruam yang tidak enak, jadi penting untuk membuatnya tetap bersih dan kering. Lalu, pindahkan kembali dan cuci rambut bayi. Karena bayi kehilangan panasnya melalui kepala mereka, ini harus menjadi langkah terakhir Anda. Jika airnya masih hangat Anda bisa melakukan sedikit waktu bermain, tapi tahan dorongan untuk percikan terlalu lama karena air mendingin, bayi akan cepat kedinginan.